7 tahun kuliah di jurusan pendidikan fisika UPI

7 tahun kuliah di jurusan pendidikan fisika UPI
Sekitar akhir agustus tahun 2003 saya kembali ke kota Bandung dengan tujuan kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia atau lebih dikenal dengan UPI.

Saya tinggal dikosan yang berada di Ciwaruga yang berjarak 1 kilo meteran lah dari UPI. Didekat Ciwaruga ini terdapat politeknik yang cukup terkenal yaitu Politeknik Bandung atau Polban. Sebenarnya, ketika Polban mengadakan seleksi mahasiswa baru, saya mengikutinya dan hasilnya saya diterima sebagai cadangan di jurusan teknik kimia. Maksud cadangan ini jika ada perserta yang lulus langsung tidak mendaftarkan diri maka kekosongan ini dapat diisi oleh perserta cadangan ini. Tapi pada akhirnya saya lebih mantap kuliah di UPI.
Pada awal september 2003, saya mulai masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia untuk mengikuti perkuliahan disana. Tetapi seperti biasa, permulaan kuliah diisi dengan masa orientasi mahasiswa terlebih dahulu, yang sebagian besar kegiatannya diisi oleh mahasiswa-mahasiswa senior yang terhimpun dalam Himpunan Mahasiswa Fisika atau HMF. Saya hanya mengikuti kegiatan ini hanya sehari saja dari tiga hari yang seharusnya. Dan ternyata hal ini tidak mempengaruhi saya sebagai mahasiswa UPI. Awalnya, saya menyangka akan mendapat hukuman dari Universitas karena tidak mengikuti Masa orientasi secara penuh, tetapi Alhamdulillah saya tidak dikenai hukuman apapun. Malahan ada seorang mahasiswa yang tidak mengikuti masa orientasi sekalipun, dan sama sekali tidak mendapat hukuman dari universitas.
Hari demi hari saya mengikuti perkuliahan di UPI jurusan pendidikan fisika. Pada dasarnya saya tidak mengalami kesulitan dalam mengikuti perkuliahan ini karena sebagian besar materinya merupakan materi pelajaran di SMA yang sudah dipelajari. Walaupun ada beberapa materi yang baru, yang sama sekali belum di ajarkan disekolah. Materi-materi baru ini yang membuat kesulitan tersendiri. Saya masih ingat materi itu yaitu mekanika dan matematika fisika. Pertama kali mengontrak Mekanika saya mendapat nilai E. Demikian juga matematika fisika. Baru untuk kedua kalianya saya bisa lolos dari kuliah mekanika, itupun nilainya C. Untuk matematika fisika saya harus mengulanginya sampai tiga kali. Itupun dibantu oleh dosen yang bersangkutan dengan memberi tugas tambahan agar dapat lolos dengan nilai C.
Satu semester telah saya lalui dan tibalah waktunya untuk melihat hasil yang diperoleh selama satu semester ini. Ternyata, hasil yang saya peroleh sangat mengecewakan. IPK saya disemester pertama hanya 1,50, IPK yang dibawah standar yaitu 2,50. Beberapa mata kuliah harus diulang dan mata kuliah yang luluspun hanya mendapat nilai C. Tetapi dosen pembimbing waktu itu masih bisa memaklumi, dia menganggap mungkin saya masih dalam proses adaptasi. Tetapi memang begitulah kenyataannya. Dengan IPK rendah ini, saya akhirnya bertekad untuk memperbaikinya disemester-semester yang akan datang. Saya tak ingin ada mata kuliah yang harus diulang. Saya ingin semua mata kuliah tuntas dalam sekali kontrak.
Akhirnya, semester demi semester saya lalui dengan hasil yang naik turun. Kadangkala IPK semester naik jika dibanding dengan semester sebelumnya. Namun kadangkala juga IPK semester turun jika dibanding dengan IPK semester sebelumnya. Tetapi mungkin itulah hidup, kadang kita ada diatas kemudian kadang kita ada dibawah.
Diawal tahun 2008 atau 5 tahun mengikuti kuliah, saya mengontrak mata kuliah PPL. Pada waktu itu saya ditempatkan disalah satu sekolah SMA swasta yaitu SMA PGRI 1 Bandung yang terletak di Jl Sukagalih no 80. Kepala sekolah pada waktu itu adalah Bapak Drs. Agus Hidayat, M.Pd. Disekolah inilah akhirnya saya mengajar atau menjadi guru fisika yang menggantikan guru sebelumnya yang adalah Dosen Luar Biasa yang mengundurkan diri karena suatu alasan tertentu. Ternyata berkah juga PPL, kita bisa mendapat pekerjaan tanpa perlu melamar kemana-mana. Atau mungkin sudah takdir saya harus menjadi guru disana. Saya diangkat jadi guru di SMA PGRI 1 Bandung beberapa minggu setelah saya selesai PPL. Ini memang diluar dugaan saya sebab memang saya tidak memiliki hasrat atau pun angan-angan menjadi guru di sini. Jadi saya telah menjadi guru pada saat masih menjadi mahasiswa.
Semester berikutnya setelah semester saya PPL, saya mengontrak Skripsi yang merupakan tugas akhir seorang mahasiswa untuk memperoleh gelar sarjana. Dalam proses pembuatan skripsi ini, saya menemui banyak masalah. Saya mesti mengulang skripsi dari awal lagi karena skripsi saya yang pertama oleh dosen pembimbing dianggap gagal dan saya harus mengganti judul dan dosen yang baru. Ini memang keputusan yang sangat berat buat saya. Saya sedikit frustasi waktu itu tetapi akhirnya saya bisa bangkit lagi. Saya memulai skripsi lagi dari awal dengan dosen pembimbing yang baru dengan berbagai kesulitan yang harus dihadapi. Walaupun akhirnya skripsi itu selesai juga. Saya menyelesaikan skripsi hampir 2,5 tahun. Waktu yang cukup lama karena normalnya skripsi bisa diselesaikan 1 semester atau paling lama 2 semester. Maklum lah.
Tahun 2010 bulan pebruari saya dinyatakan lulus sebagai sarjana S-1 jurusan pendidikan fisika dengan IPK 2,72. IPK yang sebenarnya dibawah IPK mininal. Tapi saya tetap bersyukur bisa menyelasaikan kuliah saya walaupun dengan susah payah, dengan IPK dibawah minimal, dengan berbagai problem, dan lainnya. Pada bulan maret 2010 saya diwisuda dari UPI, dan selesailah status mahasiswa saya di Universitas Pendidikan Indonesia. 7 tahun kuliah di jurusan pendidikan fisika UPI.
Ditulis oleh: Admin Hallo Blog Updated at : 19:10:00